Jumat, 16 Desember 2011

Perubahan anatomi fisiologis pada ibu hamil (sistem reproduksi, payudara, endokrin)

KATA PENGANTAR 

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT bahwa penulis telah menyelesaikan tugas mata pelajaran Askeb I dengan membahas “Perubahan anatomi fisiologis pada ibu hamil (sistem reproduksi, payudara, endokrin)” dalam bentuk makalah.

Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat kekompakan kelompok, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi dapat teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
Dosen mata kuliah Askeb I yang telah memberikan tugas, petunjuk, kepada penulis sehingga penulis termotivasi dan menyelesaikan tugas ini.
Teman-teman yang telah turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan sehingga tugas ini selesai.

Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amin.


BAB I 


PENDAHULUAN 

I.1. Latar Belakang

Sementara kehamilan berkembang, tubuh mulai melakukan banyak perubahan dan penyesuaian diri untuk membantu pertumbuhan bayi. Beberapa perubahan tubuh tidak terasa atau tampak oleh ibu hamil. Beberapa perubahan tubuh cukup mengganggu ibu hamil dan beberapa perubahan tidak mengganggu. Perubahan tubuh yang terjadi selama kehamilan tersebut merupakan hal yang normal dan sebetulnya hal tersebut jika mengganggu dapat diatasi. Perubahan tersebut perlu diketahui oleh ibu hamil.

I.2. Tujuan

Tujuan kami menulis makalah ini adalah untuk :

- Mengetahui tentang perubahan sistem reproduksi, payudara, dan endokrin pada ibu hamil

- Mengetahui perubahan tiap trimesternya

- Menambah wawasan dan pengetahuan

- Sebagai tugas dari mata kuliah Askeb I


BAB II 

PEMBAHASAN 

Perubahan sistem reproduksi pada ibu hamil :

1. Uterus

Uterus berkembang sampai ke xifisternum. Pengurangan tinggi fundus uteri dikenal dengan istilah lightening, terjadi pada beberapa bulan terakhir kehamilan, pada saat fetus turun ke bagian bawah uterus. Hal ini bertujuan untuk membuat jaringan pelvik menjadi lebih lunak, dengan tonus uterus yang baik, dengan formasi yang baru dari segmen bawah rahim.

Pada primigravida hal ini juga memacu penurunan fetus ke dalam pelvic dan kepala menjadi engaged. Pada wanita multipara, penurunan kepala biasanya tidak terjadi sampai proses persalinan tiba. Perkembangan segmen bawah rahim dari ujung istmus berakhir sampai proses persalinan. Setelah diukur kira-kira 1-3 bagian tubuh uterus sangat tipis dan mengandung sedikit otot. Kontraksi pada bagian ini tidak sama dengan yang ada di fundus dan di korpus.

Uterus tumbuh membesar primer, maupun sekunder akibat pertumbuhan isi konsepsi intrauterin. Estrogen menyebabkan hiperplasi jaringan, progesteron berperan u elastisitas / kelenturan uterus.

Pengaruh hormon estrogen dan progesteron :

— Hipertrofi dan dilatasi otot

— Penumpukan jaringan fibrosa dan elastik untuk menambah kekuatan dinding uterus

— Penambahan jumlah dan ukuran pembuluh darah vena

— Dinding uterus semakin lama semakin menipis

— Uterus kehilangan kekakuan dan menjadi lunak dan tipis bersamaan dengan bertambahnya umur kehamilan



Taksiran kasar perbesaran uterus pada perabaan tinggi fundus :

- Tidak hamil / normal : sebesar telur ayam (+ 30 g)

- Kehamilan 8 minggu : telur bebek

- Kehamilan 12 minggu : 1-2 jari di atas symphisis

- Kehamilan 16 minggu : pertengahan simfisis-pusat

- Kehamilan 20 minggu : 3 jari di bawah pusat

- Kehamilan 24 minggu : setinggi pusat

- Kehamilan 28 minggu : 3 jari di atas pusat

- Kehamilan 32 minggu : pertengahan pusat-px

- 36-42 minggu : 3 sampai 1 jari bawah px

2. Serviks 

Serviks mengandung lebih banyak jaringan serabut dan sedikit jaringan otot dibandingkan bagian uterus, yang juga memperlihatkan dominasi pada bagian fundus dari kontraksi uterus. Serviks ini juga berfungsi sebagai barier yang efektif terhadap infeksi saat kehamilan. Hal ini juga terstruktur untuk melindungi fetus pada saat perkembangannya, dengan cara menutup dan menyediakan resistensi terhadap tekanan dari atas saat ibu dalam posisi berdiri.

Dalam pengaruh progesterone, sel secret mucus endoserviks menjadi lebih tebal dari infeksi aterm. Panjang serviks 2,5 cm pada saat hamil, terapi estrogen menyebabkan semakin lebar,. Endoserviks sel yang membuka dapat memperlihatkan erosi. Estrogen juga meningkatkan vaskularitas serviks dan bila dilihat dengan speculum serviks terlihat kebiru-biruan. Pada saat akhir kehamilan serviks akan matang. Hal ini terjadi karena respons meningkatnya kontraksi dan adanya kontrol hormonal. Prostaglandin dilepaskan dari jaringan local dan mengurangi konsentrasi kolagen di dalam serviks dan distensi dalam persiapan proses persalinan. Otot fundus menambah intensitas gelombang luar dari serviks yang menyokong proses persalinan. Effacement atau pemendekan serviks terjadi pada primigravida pada 2 minggu terakhir kehamilan, tetapi biasanya tidak terjadi pada multigravida sampai proses persalinan terjadi.

Rincian perubahan serviks pada ibu hamil :

— Bertambah & menjadi lunak(tandaGoodell)

— warna nya menjadi livid (kebiru-biruan)tanda chadwick .

— terjadi perlunakan

— mengeluarkan sekret mukus endoserviks karena pengaruh progesteron u perlindungan terhadap infeksi

— estrogen meningkatkan vaskularitas sehingga timbul tanda chadwick

— prostaglandin dilepaskan dari jaringan untuk perlunakan serviks

effacement a/ pemendekan terjadi pada primigravida pada 2 minggu terakhir 

3. Vagina

Estrogen menyebabkan perubahan lapisan otot dan epithelium. Lapisan otot mengalami hipertrofi dan kapasitas vagina mengalami tekanan. Hal ini selalu berubah di sekeliling yang berhubungan dengan jaringan yang kea rah vagina menjadi lebih elastic.

Perubahan pada vagina dapat membuat vagina terbuka pada kala kedua pada proses persalinan untuk memudahkan bayi lahir. Epitel menjadi tebal dan menjadi tanda deskuamasi meningkat. Vagina menghasilkan cairan berwarna putih yang dikenal dengan leukorea. Sel epitel juga meningkatkan kadar glikogen. Sel ini berinteraksi dengan hasil dedoelein yang merupakan bakteri komensal dan menghasilkan lingkungan yang lebih asam. Lingkungan ini menyediakan perlindungan ekstra terhadap organisme tetapi merupakan keadaan menguntungkan bagi Candida albican.

Vagina menjadi lebih tervaskularisasi dan berwarna violet, hal ini kemungkinan disebabkan oleh hyperemia.

— jaringan otot mengalami hypertrofi

— terjadi peningkatan vaskularisasi

— peningkatan pengeluaran pervaginam

— Selama kehamilan pH vagina menjadi lebih basa, dari 4 menjadi 6,5. Hal ini membuat bumil lebih rentan terhadap infeksi vagina

— Hormon kehamilan mempersiapkan vagina supaya distensi selama persalinan dengan memproduksi mukosa vagina yang tebal, jaringan ikat yang longgar, hipertrofi otot polos, dan pemanjangan vagina. Peningkatan vaskularisasi menimbulkan warna ungu kebiruan pada mukosa vagina dan serviks, disebut tanda Chadwick. 

Perubahan payudara :
Karena adanya peningkatan suplai darah di bawah pengaruh aktivitas hormone, jaringan glandular dari payudara membesar dan putting menjadi lebih efektif walaupun perubahan payudara dalam bentuk yang membesar terjadi pada waktu menjelang persalinan. Estrogen menyebabkan pertumbuhan tubula laktiferus dan duktus juga menyebabkan penyimpanan lemak. Progesterone menyebabkan tumbuhnya lobus, alveoli lebih tervaskularisasi dan mampu bersekresi. Hormon pertumbuhan dan glukokortikoid juga mempunyai peranan penting dalam perkembangan ini. Prolaktin merangsang produksi kolostrum dan air susu ibu.

Minggu ke-6 sampai ke-8 kehamilan : Jaringan lunak payudara menjadi lebih noduler (terasa berbenjol) pada perabaan. Terdapat sensasi penuh, nyeri tekan dan kesemutan, banyak wanita tidak menyukai payudaranya disentuh pada masa kehamilan ini. Karena terjadi peningkatan suplai darah, maka vena subkutann menjadi lebih tampak nyata.

Minggu ke-12 : Pigmentasi pada papilla an areola mammae menjadi lebih nyata. Glandula sebacca yang terletak di dalam aerola membesar dan menyekresi sebum dan bahan seperti minyak yang berguna untuk melumasi papilla mammae. Pada stadium ini kelenjar-kelenjar tersebut dikenal sebagai tuberculum Montgomery. Kolostrum mulai keluar dari papilla mammae pada pasien multigravida yang telah mantap menyusui pada masa sebelumnya. Wanita primigravida baru akan memproduksi kolostrum pada akhir kehamilan. Pada stadium ini fungsinya kolostrum sebagai bakal air susu adalah menyediakan sarana sekretorik dan pembuluh lactifer untuk keluarnya air susu secara bebas saat postnatal. Pada mulanya kolostrum ini tampak sebagai cairan yang jernih seperti air.

Setelah 16 minggu : Suatu daerah yang berbercak-bercak akan timbul di sekitar areola mammae dan dikenal sebagai areola sekunder. Areola sekunder ini lebih tampak nyata pada wanita kulit hitam. Setelah bayi lahir areola sekunder ini hilang. Kolostrum sejati tampak setelah minggu ke-16. Kolostrum ini warnanya menjadi lebih kuning dan mempunyai konsistensi yang lebih menyerupai krim. Jaringan granuler pada pusat alveoli, yang telah mengalami degenerasi lemak, sekarang dikeluarkan sebagai corpusculum colostrum.

Perubahan pada sistem endokrin :
1. Hormon Plasenta

Sekresi hormone plasenta dan HCG dari plasenta janin mengubah organ endokrin secara langsung. Peningkatan kadar estrogen menyebabkan produksi globulin meningkat dan menekan produksi tiroksin, kortikosteroid dan steroid, dan akibatnya plasma yang mengandung hormone-hormon ini akan meningkat jumlahnya, tetapi kadar hormone bebas tidak mengalami peningkatan yang besar.

2. Kelenjar Hipofisis
Berat kelenjar hipofisis anterior meningkat sampai 30-50% yang menyebabkan wanita hamil menderita pusing. Sekresi prolaktin, hormone adrenokortikotropik, hormone tirotropik, dan melanocyt stimulating hormone meningkat. Produksi hormone perangsang folikel dan luteinizing hormone dihambat oleh estrogen dan progesterone plasenta.

Efek meningkatnya sekresi prolaktin adalah ditekannya produksi estrogen dan progesterone pada masa kehamilan. Setelah plasenta dilahirkan, konsentrasi prolaktin plasma akan menurun, penurunan ini masih terus berlangsung sampai saat ibu menyusui. Tetapi prolaktin masih tetap disekresi karena adanya rangsangan dari isapan bayi yang juga menstimulasi produksi air susu.

Penelitian terbaru mengatakan bahwa tidak ada bukti akurat yang dapat membuktikan kontraksi yang disebabkan oleh penurunan kadar progesterone.

3. Kelenjar Tiroid
Dalam kehamilan, normalnya ukuran kelenjar tiroid akan mengalami pembesaran kira-kira 13% karena adanya hyperplasia dari jaringan glandula dan peningkatkan vaskularitas. Secara fisiologis akan terjadi peningkatan ambilan iodine sebagai kompensasi kebutuhan ginjal terhadap iodine yang meningkatkan laju menjelaskan penyakit gondok disebabkan oleh defisiensi iodine.

Walaupun kadang-kadang kehamilan dapat menunjukkan hipertiroid, fungsi tiroid biasanya normal. Namun, peningkatan konsentrasi T4 (tiroksin) dan T3 (triodotironin) juga dapat merangsang peningkatan laju metabolism basal. Hal ini disebabkan oleh produksi estrogen stimulated hepatic dari tiroksin yang menekan globulin.

4. Kelenjar Adrenal
Karena dirangsang oleh hormone estrogen, kelenjar adrenal memproduksi lebih banyak kortisol plasma bebas dan juga kortikosteroid, termasuk ACTH dan hal ini terjadi dari umur 12 minggu sampai masa aterm. Karena kortisol bebas menekan produksi ACTH, maka disimpulkan adanya gangguan mekanisme feed-back.

Diperkirakan kortisol bebas yang meningkat mempunyai efek yang berlawanan terhadap insulin. Dengan meningkatnya kadar glukosa dalam darah, adanya asam lemak dan produksi glikogen, dan menurunnya tingkat penyebaran glukosa oleh otot dan lemak, dapat membuat kebutuhan fetus akan glukosa terpenuhi. Peningkatkan konsentrasi kortisol bebas pada saat masa kehamilan juga menyebabkan hiperglikemia pada saat setelah makan.

Peningkatan plasma kortikol bebas juga dapat menyebabkan ibu hamil mengalami kegemukan di bagian-bagian tertentu karena adanya penyimpanan lemak dan juga dapat merangsang adanya strine gravidarum. Karena adanya stimuli dari estrogen dan progesterone, maka terjadilan peningkatan konsentrasi renin yang besar yang berfungsi sebagai tambahan, selain renin yang diproduksi di uterus dan korion. Peningkatan kortisol dan tekanan darah merangsang sistem renin-angiotensin dapat juga menjaga keseimbangan efek hilangnya garam yang disebabkan oleh korteks adrenal. Kadar aldosteron meningkat sampai 200-700 ng/l sampai pada akhir kehamilan, sedangkan kadar aldosteron pada wanita tidak hamil adalah 100-200 ng/l.

Efek dari aldosteron adalah meningkatnya penyerapan natrium, yang dapat member keseimbangan bagi tubuh karena garam yang hilang dan sekresi air meningkat. Ketidakseimbangan zat-zat ini, dapat menyebabkan wanita hamil tersebut mengabsorpsi kembali natrium dari ginjal sehingga memengaruhi keadaan cairan tubuh yang dapat menyebabkan hipertensi. Peningkatan angiotensin H juga akan menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah dengan cepat jika tidak ada vasodilator oleh prostaglandin dan prostasiklin.

HCG mengurangi respons imunitas dalam kehamilan. Kadar immunoglobulin IgC dan IgM menurun dari kehamilan 10 sampai 30 minggu dan tetap pada kadar ini sampai aterm. Titer antibody terhadap cacar, influenza A, dan herpes simpleks mengalami p engurangan sebagai efek dari hemodilusi, karena itu resistensi terhadap virus dapat berubah.

BAB III 


PENUTUP

III.1. Kesimpulan

Kehamilan dipengaruhi berbagai hormon : estrogen, progesteron, human chorionic gonadotropin, human somatomammotropin, prolaktin dsb. Human Chorionic Gonadotropin (hCG) adalah hormon aktif khusus yang berperan selama awal masa kehamilan, berfluktuasi kadarnya selama kehamilan.

Akibat pengaruh estrogen terjadi hiperplasia sistem duktus dan jaringan interstisial payudara. Hormon laktogenik plasenta (diantaranya somatomammotropin) menyebabkan hipertrofi dan pertambahan sel-sel asinus payudara, serta meningkatkan produksi zat-zat kasein, laktoalbumin, laktoglobulin, sel-sel lemak, kolostrum. Mammae membesar dan tegang, terjadi hiperpigmentasi kulit serta hipertrofi kelenjar Montgomery, terutama daerah areola dan papilla akibat pengaruh melanofor. Puting susu membesar dan menonjol. (beberapa kepustakaan tidak memasukkan payudara dalam sistem reproduksi wanita yang dipelajari dalam ginekologi).

Uterus
Tumbuh membesar primer, maupun sekunder akibat pertumbuhan isi konsepsi intrauterin. Estrogen menyebabkan hiperplasi jaringan, progesteron berperan untuk elastisitas / kelenturan uterus.

Vagina / vulva
Terjadi hipervaskularisasi akibat pengaruh estrogen dan progesteron, warna merah kebiruan (tanda Chadwick).

Ovarium
Sejak kehamilan 16 minggu, fungsi diambil alih oleh plasenta, terutama fungsi produksi progesteron dan estrogen. Selama kehamilan ovarium tenang/beristirahat. Tidak terjadi pembentukan dan pematangan folikel baru, tidak terjadi ovulasi, tidak terjadi siklus hormonal.

III.2. Saran

Ibu hamil perlu mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pada anatomi dan fisiologinya agar ibu tahu bahwa perubahan itu normal dan ibu dapat mencegah terjadinya kelainan atau hal-hal yang tidak diinginkan terkait masalah kehamilannya. 


DAFTAR PUSTAKA 

Sulistyawati, Ari. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan. Jakarta: Penerbit Salemba Merdeka


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar